Sabtu, 10 Oktober 2015

Agama dan tindakan ekonomi



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Manusia yang hidup di dunia ini semuanya tidak luput melakukan aktifitas ekonomi. Dimana ekonomi sendiri adalah pengelolaan rumah tangga dimana suatu usaha dalam pembuatan keputusan dan pelaksanaannya yang berhubungan dengan pengalokasian sumber daya rumah tangga yang terbatas diantara berbagai anggota, dengan mempertimbangkan kemampuan, usaha dan keinginan masing-masing. 
Dapat dikatakan bahwa kegiatan ekonomi yang mana dalam pembuatan keputusan dan pelaksanaannya harus diimbangi dengan keyakinan atas apa yang akan diputuskan dan melaksanakan aktivitas ekonomi dalam memenuhi kebutuhan semua khalayak.
Aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan agama ini  ternyata sudah ada sejak dulu, ekonomi dan agama itu bersatu pada zaman keemasan Islam (the Golden Age of Islam), yaitu pada abad ke-7 sampai ke 14, Sampai akhir tahun 1700-an di Barat pun demikian, ekonomi berkait dengan agama. Ahli ekonomi Eropa adalah pendeta.Pada zaman pertengahan, ekonomi skolastik dikembangkan oleh ahli gereja, seperti Thomas Aquinas, Augustin, dan lain-lain. Namun karena adanya revolusi industri dan produksi massal, ahli ekonomi Barat mulai memisahkan kajian ekonomi dari agama. Keadaan ini merupakan gejala awal revolusi menentang kekuasaan gereja dan merupakan awal kajian ekonomi yang menjauhkan dari pemikiran ekonomi skolastik.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana pengertian kepercayaan?
2.      Bagaimana kepercayaan dan risiko?
3.      Bagaimana lingkungan kepercayaan?
4.      Bagaimana bentuk kepercayaan?
5.      Bagaimana hubungan agama dan ekonomi?

C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian kepercayaan
2.      Untuk mengetahui kepercayaan dan risiko
3.      Untuk mengetahui lingkungan kepercayaan
4.      Untuk mengetahui bentuk kepercayaan
5.      Untuk mengetahui hubungan agama dan ekonomi
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Kepercayaan
Dalam terminologi sosiologi, konsep kepercayaan dikenal dengan trust. Definisi kepercayaan (trust) dijelaskan sebagai:
-       confidence in yang berarti yakin pada, dan
-       reliance on yang bermakna  percaya atas beberapa kualitas atau atribut sesuatu atau seseorang, atau kebenaran suatu pernyataan.

Terdapat beberapa pengertian kepercayaan menurut para ahli, diantaranya:
1.         Torsvik mengatakan bahwa kepercayaan merupakan kecencderungan perilaku tertentu yang dapat mengurangi risiko yang muncul dari perilakunya.
2.         Giddens mengatakan bahwa kepercayaan merupakan keyakinan akan reliabilitas seseorang atau ssitem, terkait dengan berbagai hasil atau peristiwa, di mana keyakinan itu mengekspresikan suatu iman (faith) terhadap integritas atau cinta kasih orang lain, atau terhadap ketepatan prinsip abstrak (pengetahuan teknis).
3.         Zucker  mengatakan bahwa kepercayaan merupakan seperangkat harapan yang dimiliki bersama-sama oleh semua yang berada dalam pertukaran.
4.         Lawang mengatakan bahwa kepercayaan merupakan hubungan antara dua belah pihak atau lebih yang mengandung harapan yang menguntugkan salah satu pihak atau kedua belah pihak melalui interkasi sosial.

Dari ke empat pengertian kepercayaan dari para tokoh, pengertian Giddens lah yang paling cocok dipakai karena selain mencakup berbagai fenomena dan peristiwa, kepercayaan juga memiliki irisan dengan beberapa pendapat teoritisi lain seperti Zucker dan Lawang.

B.     Kepercayaan dan Risiko
Giddens mengatakan bahwa antara kepercayaan dan risiko saling mengisi. Kepercayaan biasanya berfungsi untuk mereduksi atau meminimalisasi bahaya yang berasal dari aktivitas tertentu. Ada beberapa situasi menurut Giddens, di mana pola risiko diinstitusionalisasikan di dalam kerangka kerja kepercayaan di sekitarnya, seperti investasi di pasar modal. Disini skill (keterampilan) dan kesempatan merupakan faktor pembatas risiko, namun secara normal risiko diperhitungkan secara sadar. Pada semua setting kepercayaan, risiko yang dapat diterima berada di bawah “pengetahuan induktif yang lemah,” dan secara implisit selalu ada keseimbangan antara kepercayaan dengan kalkulasi risiko dalam hal ini. Yang terlihat sebagai risiko yang “dapat diterima” –minimalisasi bahaya-bervariasi pada konteks yang berlainan, namun biasanya ia menempati posisi sentral dalam menjalin kepercayaan.

C.    Lingkungan Kepercayaan
Setiap kepercayaan memiliki suatu lingkungan. Giddens (2005) menemukan dua setting yang berbeda bagi tumbuh kembangnya suatu lingkungan kepercayaan, yaitu masyarakat pra-modern dan modern.
1.      Masyarakat pra-modern
Dalam masyarakat pra-modern menurut Giddens, di temukan 4 lingkungan yang menumbuh kembangkan kepercayaan yaitu:
1)      hubungan kekerabatan, Hubungan kekerabatan menyediakan suatu mata rantai hubungan sosial yang dapat diandalkan yang secara prinsip dan umum dilakukan membentuk media pengorganisasian relasi kepercayaan.
Contoh: jaringan hubungan yang dibentuk oleh sistem kekerabatan matrilineal yang bermula dari hubungan semande, seperut, senenek, seninik, sekaum dan sesuku telah menjadi perekat hubungan sesama satu kerabat dan sebagai jembatan yang menghubungkan suatu  kelompok dengan kelompok luar.
2)      komunitas masyarakat lokal, komunitas masyarakat lokal tidak dikaitkan dengan romantisme budaya, tetapi lebih kepada arti penting dari relasi lokal yang diatur dalam konteks tempat, di mana tempat belum di transformasi oleh relasi ruang-waktu yang berjarak.
Contoh: jaringan yang diratik dari komunitas terkecil sampai terbesar.
-          Sedusun (kelompok marga/clan dengan lahan tanah yang tidak terlalu luas),
-          Sekampung (kelompok marga/clan dengan lahan tanah yang luas),
-          Sejorong (kumpulan beberapa kampung),
-          Senagari (kumpulan dari beberapa jorong serta memiliki satu kesatuan adat),
-          Seluhak (kesatuan teriotorial di mana nenek moyang mereka berasal), dan
-          Seminangkabau (komunitas masyarakat lokal yang terluas).
3)      kosmologi religious, merupakan bentuk kepercayaan dari praktik ritual yang menyediakan interpretasi providential atas kehidupan dan alam. Kosmologis religious menyediakan interpretasi moral dan praktik bagi kehidupan sosial dan kehidupan pribadi dan bagi dunia alam yang merepresentasikan lingkungan yang aman bagi pemeluknya.
Contoh: agama Islam menyediakan lingkungan dalam bentuk interpretasi moral dan praktik bagaimana seseorang harus menjaga kepercayaan yang diembankan kepadanya. banyak tuntutan agama, baik dalam al-Quran maupun Hadist, memberikan interpretasi dan praktik moral bagi seorang muslim untuk memegang teguh kepercayaan. Misalnya menjaga kejujuran, kepercayaan dan amanah dalam hidup.
4)      tradisi. merupakan sarana untuk mengaitkan masa kini dengan masa depan, berorientasi kepada masa lalu dan waktu yang dapat berulang. Tradisi adalah rutinitas yang penuh makna secara intrsinsik, bukan hanya sekedar perilaku kosong yang hanya berorientasi pada kebiasaan semata.
Contoh: bagaimana kepercayaan merupakan suatu hal penting dalam kehidupan. Dalam berbagai mamangan adat, petuah adat, atau tuntutan adat menyebutkan bahwa menjaga kepercayaan, menghindari dusta/ berbohong, memegang amanah dan sejenisnya merupakan suatu bentuk ketinggian budi dan akhlak mulia.

Di dalam masyarakat tradisional, agama berfungsi untuk mendorong manusia terlibat dalam peran-peran dan tingkah laku ekonomi, karena agama dapat mengurangi rasa cemas dan takut. Studi yang dilakukan oleh Malinowski di kalangan masyarakat Trobriand, ditemukan bahwa masyarakat tersebut selalu mengadakan upacara ritual sebelum melakukan kegiatan mencari ikan di laut. Agama juga berfungsi menciptakan norma-norma sosial yang mempengaruhi ekonomi. Studi yang dilakukan max Weber tentang “Etika Protestan” menemukan bahwa agama Protestan ternyata memberikan sumbangan tidak kecil terhadap upaya menciptakan jiwa kewirausahaan (sipirit of enteirprenuership). Ajaran agama tersebut menganjurkan kepada pemeluknya agar selalu bekerja keras, tahan cobaan, dan hidup hemat.
Menurut Weber, menjadikan mereka tidak konsumtif, namun selalu berusaha menginvestasikan sumber dana yang dimilikinya untuk berusaha tiada henti dan putus asa. Sikap rakus yang tidak terbatas karena belum memperoleh keuntungan, tidaklah identik sedikitpun dengan kapitalisme dan malahan bukan semangatnya. Kapitalisme bahkan mungkin identik dengan pengendalian dan pengekangan, atau setidak-tidaknya identik dengan suatu watak rasional, dari suatu keinginan-keinginan rasional. Akan tetapi kapitalisme secara pasti identik dengan pencarian keuntungan (profit) dan keuntungan yang dapat diperbaharui untuk selamanya dengan usaha-usaha kapitalis yang rasional dan dilakukan secara terus-menerus. Karena memang demikian seharusnya dalam suatu tatanan masyarakat kapitalis secara keseluruhan, suatu usaha kapitalis individual yang tidak memanfaatkan kesempatan yang ada untuk mengambil keuntungan, pasti akan mengalami malapetaka, yaitu kehancuran. Pandangan Weber tentang hal ini yaitu bahwa penolakan terhadap tradisi, atau perubahan yang cepat dalam metode dan evaluasi terhadap kegiatan ekonomi, tidak akan mungkin terjadi tanpa dorongan moral dan agama. Namun, dia juga mengajukan bukti bahwa tetap terjadi perbedaan dalam cara yang ditempuh oleh berbagai kelompok keagamaan untuk ikut ambil bagian dalam kapitalisme yang mapan pada masanya sendiri.

2.      Masyarakat modern
Menurut Giddens dalam masyarakat modern terdapat tiga lingkungan yang dapat menimbulkan kepercayaan, yaitu:
1.      Sistem abstrak, merupakan mekanisme institusional yang mencabut hubungan-hubungan sosial dari konteks lokal dan perubahan hubungan-hubungan tersebut menuju rentang ruang dan waktu yang tidak terbatas melalui:
-          Alat simbolis, Salah satunya uang, uang merupakan alat simbolis yang dapat melakukan penjarakan ruang dan waktu. Uang adalah cara penundaan yang menyediakan sarana untuk menghubungkan kredit dan pinjaman dalam situasi di mana pertukaran produk dengan segera, mustahil terjadi, oleh karenanya uang menyediakan proses transaksi yang berlangsung antara agen yang secara lebar terpisah oleh ruang dan waktu. 
-          Sistem ahli, adalah system kecakapan teknis atau keahlian profesional yang mengatur wilayah luas pada lingkungan material di mana kita hidup saat ini. Contoh: saat masuk rumah kita percaya rumah tidak akan roboh menimpa kita karena kita percaya pada kompetensi arsitek yang membangun rumah. Meski kita tahu pada prinsipnya struktur bangunan bisa runtuh.
2.      Relasi personal, karakter persahabatan masyarkat modern mengalami transformasi, persahabatan seringkali menjadi bentuk penyatuan kembali, namun dia tidak secara langsung terlibat dalam sistem abstrak itu sendiri, yang secara eksplisit mengatasi ketergantungan atas ikatan personal. Lawan dari kawan bukan lagi musuh atau orang asing, namun dia adalah kenalan, kolega atau seseorang yang tidak saya kenal. Bersamaan dengan transmisi ini, martabat digeser oleh kesetiaan yang tidak memiliki dukungan lain kecuali kasih sayang personal, dan kejujuran digantikan oleh apa yang disebut autentisitas: keharusan agar orang lain lebih terbuka dan berniat baik. Jadi kepercayaan pada level personal menjadi suatu proyek yang dikerjakan oleh pihak-pihak yang terlibat dan menghendaki keterbukaan seorang individu terhadap orang lain. Proses timbal balik keterbukaan diri.
-          Orientasi masa depan, merupakan pemikiran kontrafaktual sebagai bentuk ketrkaitan masa lalu dan masa kini dapat menjadi lingkungan kepercayaan pada masyarakat modern. Modernitas memiliki empat dimensi institusional, yaitu:Kapitalisme, Industrialisme, Pengawasan oleh Negara-bangsa, dan Militerisme.

Di dalam masyarakat modern, peran agama terhadap kegiatan ekonomi relative berkurang. Ekonomi umumnya menekankan pentingnya rasionalitas dan sekularisme, seringkali menyebabkan harus berbenturan kepentingan dengan agama yang menekankan kepercayaan kepada hal-hal yang supranatural. Dengan demikian, keberadaan (existence) agama relatif terpisah dari ekonomi. Perbedaan yang tajam, tampak pada jika agama dihubungkan dengan lembaga-lembaga yang melaksanakan aktivitas ekonomi. Dalam tindakan ekonomi (produksi dan pertukaran komoditi), nilai-nilai yang kurang tinggi dipraktikkan dan hubungan personal yang kurang dikembangkan. Apalagi nilai-nilai yang dilibatkan bersifat boros (consumatory atau instrumental), mereka hanya berhubungan dengan benda-benda yang dikonsumsi atau dipergunakan.
Dengan demikian aktivitas ekonomi lebih bersifat sekular atau profane ketimbang sakral. Pada akhirnya, nilai dan tata cara kehidupan ekonomi tampaknya berdasarkan atas asumsi-asumsi yang lebih mudah diuji dalam pengalaman empiris, lebih siap dijalani dan lebih mudah dipastikan sekarang atau nanti. Dalam hal ini, ekonomi dapat juga diarahkan kearah kebenaran karena jika dihubungkan dengan agama maka aktivitas ekonomi juga dapat menjadi sesuatu hal yang bersifat saktal.

D.    Bentuk Kepercayaan
Kepercayaan memperbesar kemampuan manusia untuk bekerajsama, bukan didasarkan atas kalkulasi rasional kegnitif tetapi melalui pertimbangan dari suatu ukuran penyangga antara keinginan yang sangat dibutuhkan dan harapan yang mungkin secara parsial akan mengecewakan. Kerjasama tidak mungkin terjalin kalau tidak didasarkan atas adanya saling percaya di antara sesama pihak yang terlibat.
Kepercayaan meningkatkan toleransi terhadap ketidakpastian. Ketika pesanan atau barang misalnya belum datang dari mitra dagang, maka kepercayaan yang dimiliki akan menetralisir ketidakpastian tersebut, dengan mengingat berbagai peristiwa sebelumnya, yang mana pesanan selalu tepat waktu datangnya. Penetralan tersebut merupakan suatu bentuk toleransi yang dilakukan terhadap ketidakpastian.
Sako menemukan tiga bentuk keprcayaan, diantaranya:
1.      Kepercayaan kompetensi, menunjuk pada keyakinan bahwa mitra dagang akan memperlihatkan kewajiban mereka berdasarkan kemampuan dan keterampilan yang mereka miliki.
2.      Kepercayaan kontraktual, mencakup suatu keyakinan bahwa orang atau pihak yang terlibat pada suatu perjanjian tertulis akan menepati janji yang telah diikrarkan bersama tentang suatu transaksi.
3.      Kepercayaan niat baik, merujuk pada harapan bersama pihak yang terlibat memiliki komitmen terbuka satu sama lainnya untuk melakukan sesuatu yang terbaik bagi keuntungan bersama.

E.     Hubungan agama dan ekonomi
Agama merupakan sistem sosial yang sudah terlembaga dalam setiap masyarakat. Secara mendasar agama menjadi norma yang mengikat dalam keseharian dan menjadi pedoman dari sebagai konsep ideal. Ajaran-ajaran agama yang telah dipahami dapat menjadi pendorong kehidupan individu sebagai acuan dalam beriteraksi kepada Tuhan, sesama manusia maupun alam sekitarnya. Ajaran itu biasa diterapkan dalam mendorong perilaku ekonomi, sosial dan budaya[1]
Agama dan Etos kerja (Ekonomi) memang memiliki wilayah yang berbeda. Agama bergerak dalam dimensi spiritual, sedang bekerja atau usaha adalah berdimensi duniawi untuk mencari nafkah hidup. Namun, pada wilayah yang lain, agama dan etos kerja memiliki relevansi yang cukup signifikan sebagai salah satu motivasi spiritual menuju tambahan nilai kebaikan.
Sejarah membuktikan bahwa pemikiran agama sangat berpengaruh bagi perkembangan aspek material (kehidupan di dunia), baik politik, ekonomi, sosial, maupun budaya. Atau dengan kata lain, ada hubungan yang sangat signifikan antara kemajuan dalam pemikiran (immaterial) dan kemajuan dalam bidang material.  
Kajian sosial tentang agama dan perkembangan ekonomi menggunakan dua pendekatan:
-      pertama, kepercayaan sekte atau golongan agama dan pada karakteristik moral, serta motivasi yang ditimbulkannya.
-      Kedua, perubahan-perubahan sosial dan ekonomi yang mempengaruhi suatu kelompok dan gerakan keagamaan yang muncul sebagai reaksi terhadap perubahan.

Walaupun demikian, kedua pendapat tersebut saling menyempurnakan antara satu sisi dengan sisi yang lain. Analisis yang menarik tentang hubungan agama dengan pengembangan ekonomi oleh H. Palanca, dapat dijadikan kajian dalam upaya mencoba memahami peran yang dijalankan agama di dalam masyarakat. Dengan cara pandang positivistik, tidak ada cara untuk memaksakan etika agama agar tidak dipatuhi oleh pemeluknya. Di samping itu di sebagian besar di dunia, dengan menurunnya peran agama dalam masyarakat dewasa ini, kita tidak mungkin dapat berharap suatu etika agama memainkan peranan, seperti pada masa pertengahan dan zaman reformasi. Agama dapat disebut sebagai suatu faktor, bukan penyebab pertumbuhan ekonomi.
Hubungan agama dengan pembangunan ekonomi dapat disebut hubungan timbal balik. Agama merupakan salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan ekonomi, perubahan struktur ekonomi dan kemajuan masyarakat. Di pihak lain, agama juga tidak statis melainkan berubah mengikuti pertukaran waktu dan perubahan zaman, serta oleh perkembangan dan pertumbuhan ekonomi. Kondisi sosial dan ekonomi ikut mempengaruhi keberadaan agama.
Pengaruh agama terhadap golongan masyarakat pun jika dilihat dari karakter masing-masing golongan pekerjaan tidak akan berbeda jauh dengan pengaruh agama terhadap ekonomi. Golongan masyarakat tersebut adalah sebagai berikut:
1.    pertama, golongan petani. Mereka adalah masyarakat yang terbelakang, di daerah terisolasi, sistem masyarakatnya sederhana. Di samping itu, terdapat sumber ketidakpastian, ketidakmampuan, mata pencaharian tergantung pada alam, serangan hama yang di luar kemampuan petani. Oleh karena itu, mereka mencari kekuatan di luar dirinya yang dianggap dapat mengatasinya persoalan itu. Misalnya, diadakannya upacara tolak balak dengan menyediakan sesajen untuk Dewi Sri. Hal ini menunjukkan pengaruh agama begitu kuat terhadap ekonomi golongan petani sehingga menyebabkan jiwa keagamaan mereka lebih dekat dengan alam.
2.    Kedua, golongan nelayan. Golongan ini tidak jauh karakternya dengan petani. Mata pencahariannya tergantung pada alam, musim, adanya badai, dan juga hal-hal yang di luar kemampuan mereka. Oleh karena itu, merekapun mengadakan upacara untuk penguasa laut, Nyi Roro Kidul.
3.    Ketiga, pengrajin dan pedagang kecil. Mata pencaharian mereka didasarkan atas landasan ekonomi yang memerlukan perhitungan rasional. Namun, dalam hal kelahiran, perkawinan dan kematian masih diliputi perasaan keagamaan yang kental, sehingga merekapun tetap mengadakan upacara keagamaan.
4.    Keempat, pedagang besar. Mata pencaharian mereka lebih berorientasi pada kehidupan duniawi, semakin besar penghasilan dan kekayaan yang diperoleh, maka semakin kecil kecenderungan mereka terhadap agama. Namun, mereka tetap melakukan sumbangan dana untuk kepentingan agama untuk mewakili perasaan keagamaannya.
5.    Kelima, karyawan. Golongan ini disebut juga golongan demokrat atau kalangan industri, karena sistem sosialnya bersifat modern. Mata pencahariannya berdasarkan penalaran dan efisiensi, sehingga kecenderungan rasa keagamaan mereka bersifat serba mencari untung dan enak, karena gaji telah diterima setiap bulan.

Di Indonesia, kenyataan menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi Islam dimulai melalui pola kedua sehingga tidak heran jika pengembangan industri keuangan syariah tumbuh lebih cepat dibandingkan pengkajian teoritis dan konseptual dalam pembentukan sistem yang lebih komprehensif. Maka, wajar masih adanya keterbatasan sumber daya insani yang memilih pemahaman secara baik aspek ekonomi dan syariah. Hal ini menjadi tantangan yang harus dihadapi dalam rangka pengembangan ekonomi Islam. Keterangan-keterangan ilmiah yang dihasilkan sosiologi agama tidak akan menyelesaikan segala kesulitan secara tuntas. Segi kesulitan yang bukan sosiologis harus dimintakan resep dari ilmu yang bersangkutan. Misalnya teknologi, ekonomi, demografi dlsb. Jika yang dimaksud moralitas kehidupan itu merupakan wilayah ekonomi, maka moral ekonomi inilah yang perlu kita pikirkan secara kritis agar bisa menghasilkan moralitas yang bermakna bagi kehidupan.
Kalau kita kaitkan dengan konteks Indonesia dewasa ini yang tengah mengacu pembangunan ekonomi tetapi justru masih banyak pelanggaran moral yang berakibat merugikan keuangan negara. Anehnya pelanggaran itu terus berkelanjutan dengan pelaku banyak dari kalangan intelektual dan birokrat yang seharusnya menjadi uswah bagi masyarakat. Untuk mengetahui lebih jauh bagaimana seharusnya implikasi etika dalam ekonomi agar menjadi perilaku subjek pendukungnya, antara lain bisa kita lihat bagaimana pengaruh etika protestan terhadap semangat kapitalisme sebagaimana dijelaskan Max Weber dalam karyanya the protestan Ethic and The Spirit of Capiralism. Max Weber berpendapat bahwasanya para pemimpin bisnis dan pemilik modal maupun para karyawan perusahaan yang mempunyai kemampuan (skill) tinggi ataupun para staf terdidik baik secara teknis maupun komersial ternyata kebanyakan adalah orang Protestan.
Etos Kerja Padangan Weber Dengan Konsep Kapitalisme, Semangat kapitalisme juga meliputi etika kerja yang berarti bahwa semua waktu yang tidak digunakan untuk mendapatkan uang adalah suatu pemborosan. “Waktu adalah uang” merupakan prinsip dari kaum kapitalis. Mereka juga berpendapat bahwa tidak bekerja sepanjang hari adalah suatu pemborosan walaupun selama sehari itu tidak mengeluarkan uang.[2] Usaha untuk mencari keuntungan demi keuntungan mengandung implikasi bahwa segala bentuk pemborosan harus dihindari, biaya ditekan dan tidak ada modal yang disia-siakan. Perhitungan antara pemasukan dan pengeluaran dibuat secara teliti. Tetapi, semua ini bukan hanya persoalan cara berbisnis yang sukses melainkan sebuah etika atau etos yang khas dalam upaya menjawab panggilan Tuhan.
Etos bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja pada manusia. Keinginan untuk memperoleh uang bersifat alami, tetapi etos khusus yang menekankan uasaha sistematis untuk memperoleh uang melalui cara-cara rasional dengan didasari pembatasan di dalam kosumsi yang diusahakan dan dikembangkan. Hal inilah yang menyebabkan perkembangan ekonomi yang hebat di dunia Barat. Dalam kenyataanya, menurut Weber, keinginan untuk mendapatkan uang ,jika tidak disertai dengan etika. Kekuatan yang menghalangi pertumbuhan ekonomi seperti kapitalisme rasional adalah sikap tradisionalisme. Sikap ini ditandai  kecendrungan mau bekerja kalau hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Menurut Weber, tidak ada manusia yang secara kodrat ingin menghasilkan lebih dan lebih demi penghasilan itu sendiri. Kebanyakan manusia bekerja untuk memenuhi kebutuhan yang paling dasar dan kalau kebutuhan dasar itu sudah terpenuhi mereka beristirahat. Sikap seperti inilah yang paling dominan  ditemukan pada masyarakat prakapitalis dan pada sebagian dunia.

 BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.      Kepercayaan menurut Giddens merupakan keyakinan akan reliabilitas seseorang atau ssitem, terkait dengan berbagai hasil atau peristiwa, di mana keyakinan itu mengekspresikan suatu iman (faith) terhadap integritas atau cinta kasih orang lain, atau terhadap ketepatan prinsip abstrak (pengetahuan teknis).
2.      Kepercayaan dan risiko saling mengisi. Kepercayaan biasanya berfungsi untuk mereduksi atau meminimalisasi bahaya yang berasal dari aktivitas tertentu.
3.      Lingkungan kepercayaan itu terbagi dua: lingkungan kepercayaan masyarakat pra-modern dan modern.
4.      Sako menemukan tiga bentuk keprcayaan, yaitu: Kepercayaan kompetensi, kepercayaan kontraktual, dan kepercayaan niat baik.
5.      Agama dan etos kerja (ekonomi) memiliki relevansi yang cukup signifikan sebagai salah satu motivasi spiritual menuju tambahan nilai kebaikan.

6.      Saran
Penulis menyadari bahwa dalam makalah ini masih jauh dari sempurna. Kesalahan ejaan, metodologi penulisan dan pemilihan kata serta cakupan masalah yang masih kurang. Karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.


DAFTAR PUSTAKA

Bernard Raho. 2013. Agama dalam Perspektif Sosiologi, ( Jakarta, Obor).
Damsar. 2013. Pengantar Sosiologi Ekonomi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Giddens, Anthony, Kapitalisme dan Teori Sosial Modern, Jakarta, Universitas indonesia (UI-Press), 1986.
Nasir, Nanat Fatah, http;// Etos kerja wirausahawan muslim.
Http://hendrakm.blogspot.com/2010/pokok -pokok pemikiran max weber.


[1] Nasir, Nanat Fatah, http;// Etos kerja wirausahawan muslim.
[2] Benard, Raho svd, Agama dalam Perspektif Sosiologi, hlm 67.