BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia
yang hidup di dunia ini semuanya tidak luput melakukan aktifitas ekonomi.
Dimana ekonomi sendiri adalah pengelolaan rumah tangga dimana suatu usaha dalam
pembuatan keputusan dan pelaksanaannya yang berhubungan dengan pengalokasian
sumber daya rumah tangga yang terbatas diantara berbagai anggota, dengan
mempertimbangkan kemampuan, usaha dan keinginan masing-masing.
Dapat
dikatakan bahwa kegiatan ekonomi yang mana dalam pembuatan keputusan dan
pelaksanaannya harus diimbangi dengan keyakinan atas apa yang akan diputuskan
dan melaksanakan aktivitas ekonomi dalam memenuhi kebutuhan semua khalayak.
Aktivitas
ekonomi yang berkaitan dengan agama ini
ternyata sudah ada sejak dulu, ekonomi dan agama itu bersatu pada zaman keemasan Islam (the Golden Age of Islam), yaitu pada
abad ke-7 sampai ke 14, Sampai akhir tahun 1700-an di Barat pun demikian,
ekonomi berkait dengan agama. Ahli ekonomi Eropa adalah pendeta.Pada zaman
pertengahan, ekonomi skolastik dikembangkan oleh ahli gereja, seperti Thomas
Aquinas, Augustin, dan lain-lain. Namun karena adanya revolusi industri dan
produksi massal, ahli ekonomi Barat mulai memisahkan kajian ekonomi dari agama.
Keadaan ini merupakan gejala awal revolusi menentang kekuasaan gereja dan merupakan
awal kajian ekonomi yang menjauhkan dari pemikiran ekonomi skolastik.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana
pengertian kepercayaan?
2. Bagaimana
kepercayaan dan risiko?
3. Bagaimana
lingkungan kepercayaan?
4. Bagaimana
bentuk kepercayaan?
5. Bagaimana
hubungan agama dan ekonomi?
C. Tujuan
1. Untuk
mengetahui pengertian kepercayaan
2. Untuk
mengetahui kepercayaan dan risiko
3. Untuk
mengetahui lingkungan kepercayaan
4. Untuk
mengetahui bentuk kepercayaan
5. Untuk
mengetahui hubungan agama dan ekonomi
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kepercayaan
Dalam
terminologi sosiologi, konsep kepercayaan dikenal dengan trust. Definisi kepercayaan (trust)
dijelaskan sebagai:
- confidence in yang
berarti yakin pada, dan
- reliance on yang
bermakna percaya atas beberapa kualitas
atau atribut sesuatu atau seseorang, atau kebenaran suatu pernyataan.
Terdapat
beberapa pengertian kepercayaan menurut para ahli, diantaranya:
1.
Torsvik mengatakan bahwa kepercayaan
merupakan kecencderungan perilaku tertentu yang dapat mengurangi risiko yang
muncul dari perilakunya.
2.
Giddens mengatakan bahwa kepercayaan
merupakan keyakinan akan reliabilitas seseorang atau ssitem, terkait dengan
berbagai hasil atau peristiwa, di mana keyakinan itu mengekspresikan suatu iman
(faith) terhadap integritas atau cinta kasih orang lain, atau terhadap
ketepatan prinsip abstrak (pengetahuan teknis).
3.
Zucker mengatakan bahwa kepercayaan merupakan seperangkat
harapan yang dimiliki bersama-sama oleh semua yang berada dalam pertukaran.
4.
Lawang mengatakan bahwa kepercayaan
merupakan hubungan antara dua belah pihak atau lebih yang mengandung harapan
yang menguntugkan salah satu pihak atau kedua belah pihak melalui interkasi
sosial.
Dari
ke empat pengertian kepercayaan dari para tokoh, pengertian Giddens lah yang paling
cocok dipakai karena selain mencakup berbagai fenomena dan peristiwa,
kepercayaan juga memiliki irisan dengan beberapa pendapat teoritisi lain
seperti Zucker dan Lawang.
B. Kepercayaan dan Risiko
Giddens
mengatakan bahwa antara kepercayaan dan risiko saling mengisi. Kepercayaan
biasanya berfungsi untuk mereduksi atau meminimalisasi bahaya yang berasal dari
aktivitas tertentu. Ada beberapa situasi menurut Giddens, di mana pola risiko
diinstitusionalisasikan di dalam kerangka kerja kepercayaan di sekitarnya,
seperti investasi di pasar modal. Disini skill (keterampilan) dan kesempatan
merupakan faktor pembatas risiko, namun secara normal risiko diperhitungkan
secara sadar. Pada semua setting kepercayaan, risiko yang dapat diterima berada
di bawah “pengetahuan induktif yang lemah,” dan secara implisit selalu ada
keseimbangan antara kepercayaan dengan kalkulasi risiko dalam hal ini. Yang
terlihat sebagai risiko yang “dapat diterima” –minimalisasi bahaya-bervariasi
pada konteks yang berlainan, namun biasanya ia menempati posisi sentral dalam
menjalin kepercayaan.
C. Lingkungan Kepercayaan
Setiap
kepercayaan memiliki suatu lingkungan. Giddens (2005) menemukan dua setting
yang berbeda bagi tumbuh kembangnya suatu lingkungan kepercayaan, yaitu
masyarakat pra-modern dan modern.
1.
Masyarakat
pra-modern
Dalam masyarakat pra-modern menurut
Giddens, di temukan 4 lingkungan yang menumbuh kembangkan kepercayaan yaitu:
1)
hubungan
kekerabatan, Hubungan kekerabatan menyediakan suatu
mata rantai hubungan sosial yang dapat diandalkan yang secara prinsip dan umum
dilakukan membentuk media pengorganisasian relasi kepercayaan.
Contoh:
jaringan
hubungan yang dibentuk oleh sistem kekerabatan matrilineal yang bermula dari
hubungan semande, seperut, senenek, seninik, sekaum dan sesuku telah menjadi
perekat hubungan sesama satu kerabat dan sebagai jembatan yang menghubungkan
suatu kelompok dengan kelompok luar.
2)
komunitas
masyarakat lokal, komunitas masyarakat lokal tidak
dikaitkan dengan romantisme budaya, tetapi lebih kepada arti penting dari
relasi lokal yang diatur dalam konteks tempat, di mana tempat belum di transformasi
oleh relasi ruang-waktu yang berjarak.
Contoh:
jaringan
yang diratik dari komunitas terkecil sampai terbesar.
-
Sedusun (kelompok marga/clan dengan
lahan tanah yang tidak terlalu luas),
-
Sekampung (kelompok marga/clan dengan
lahan tanah yang luas),
-
Sejorong (kumpulan beberapa kampung),
-
Senagari (kumpulan dari beberapa jorong
serta memiliki satu kesatuan adat),
-
Seluhak (kesatuan teriotorial di mana
nenek moyang mereka berasal), dan
-
Seminangkabau (komunitas masyarakat
lokal yang terluas).
3)
kosmologi
religious, merupakan bentuk kepercayaan dari
praktik ritual yang menyediakan interpretasi providential atas kehidupan dan
alam. Kosmologis religious menyediakan interpretasi moral dan praktik bagi
kehidupan sosial dan kehidupan pribadi dan bagi dunia alam yang
merepresentasikan lingkungan yang aman bagi pemeluknya.
Contoh:
agama
Islam menyediakan lingkungan dalam bentuk interpretasi moral dan praktik
bagaimana seseorang harus menjaga kepercayaan yang diembankan kepadanya. banyak
tuntutan agama, baik dalam al-Quran maupun Hadist, memberikan interpretasi dan
praktik moral bagi seorang muslim untuk memegang teguh kepercayaan. Misalnya menjaga
kejujuran, kepercayaan dan amanah dalam hidup.
4)
tradisi.
merupakan
sarana untuk mengaitkan masa kini dengan masa depan, berorientasi kepada masa lalu
dan waktu yang dapat berulang. Tradisi adalah rutinitas yang penuh makna secara
intrsinsik, bukan hanya sekedar perilaku kosong yang hanya berorientasi pada
kebiasaan semata.
Contoh:
bagaimana
kepercayaan merupakan suatu hal penting dalam kehidupan. Dalam berbagai
mamangan adat, petuah adat, atau tuntutan adat menyebutkan bahwa menjaga
kepercayaan, menghindari dusta/ berbohong, memegang amanah dan sejenisnya
merupakan suatu bentuk ketinggian budi dan akhlak mulia.
Di dalam
masyarakat tradisional, agama berfungsi untuk mendorong manusia terlibat dalam
peran-peran dan tingkah laku ekonomi, karena agama dapat mengurangi rasa cemas
dan takut. Studi yang dilakukan oleh Malinowski di kalangan masyarakat
Trobriand, ditemukan bahwa masyarakat tersebut selalu mengadakan upacara ritual
sebelum melakukan kegiatan mencari ikan di laut. Agama juga berfungsi menciptakan
norma-norma sosial yang mempengaruhi ekonomi. Studi yang dilakukan max Weber
tentang “Etika Protestan” menemukan bahwa agama Protestan ternyata memberikan
sumbangan tidak kecil terhadap upaya menciptakan jiwa kewirausahaan (sipirit of enteirprenuership). Ajaran
agama tersebut menganjurkan kepada pemeluknya agar selalu bekerja keras, tahan
cobaan, dan hidup hemat.
Menurut
Weber, menjadikan mereka tidak konsumtif, namun selalu berusaha
menginvestasikan sumber dana yang dimilikinya untuk berusaha tiada henti dan
putus asa. Sikap rakus yang tidak terbatas karena belum memperoleh keuntungan,
tidaklah identik sedikitpun dengan kapitalisme dan malahan bukan semangatnya.
Kapitalisme bahkan mungkin identik dengan pengendalian dan pengekangan, atau
setidak-tidaknya identik dengan suatu watak rasional, dari suatu
keinginan-keinginan rasional. Akan tetapi kapitalisme secara pasti identik
dengan pencarian keuntungan (profit)
dan keuntungan yang dapat diperbaharui untuk selamanya dengan usaha-usaha
kapitalis yang rasional dan dilakukan secara terus-menerus. Karena memang
demikian seharusnya dalam suatu tatanan masyarakat kapitalis secara
keseluruhan, suatu usaha kapitalis individual yang tidak memanfaatkan
kesempatan yang ada untuk mengambil keuntungan, pasti akan mengalami malapetaka,
yaitu kehancuran. Pandangan Weber tentang hal ini yaitu bahwa penolakan
terhadap tradisi, atau perubahan yang cepat dalam metode dan evaluasi terhadap
kegiatan ekonomi, tidak akan mungkin terjadi tanpa dorongan moral dan agama.
Namun, dia juga mengajukan bukti bahwa tetap terjadi perbedaan dalam cara yang
ditempuh oleh berbagai kelompok keagamaan untuk ikut ambil bagian dalam
kapitalisme yang mapan pada masanya sendiri.
2.
Masyarakat
modern
Menurut Giddens dalam masyarakat modern terdapat
tiga lingkungan yang dapat menimbulkan kepercayaan, yaitu:
1.
Sistem
abstrak, merupakan
mekanisme institusional yang mencabut hubungan-hubungan sosial dari konteks
lokal dan perubahan hubungan-hubungan tersebut menuju rentang ruang dan waktu
yang tidak terbatas melalui:
-
Alat
simbolis, Salah satunya uang, uang merupakan alat simbolis yang dapat melakukan
penjarakan ruang dan waktu. Uang adalah cara penundaan yang menyediakan sarana
untuk menghubungkan kredit dan pinjaman dalam situasi di mana pertukaran produk
dengan segera, mustahil terjadi, oleh karenanya uang menyediakan proses
transaksi yang berlangsung antara agen yang secara lebar terpisah oleh ruang
dan waktu.
-
Sistem
ahli, adalah system kecakapan teknis atau keahlian profesional yang mengatur
wilayah luas pada lingkungan material di mana kita hidup saat ini. Contoh: saat
masuk rumah kita percaya rumah tidak akan roboh menimpa kita karena kita
percaya pada kompetensi arsitek yang membangun rumah. Meski kita tahu pada
prinsipnya struktur bangunan bisa runtuh.
2.
Relasi
personal, karakter persahabatan masyarkat modern mengalami
transformasi, persahabatan seringkali menjadi bentuk penyatuan kembali, namun
dia tidak secara langsung terlibat dalam sistem abstrak itu sendiri, yang
secara eksplisit mengatasi ketergantungan atas ikatan personal. Lawan dari
kawan bukan lagi musuh atau orang asing, namun dia adalah kenalan, kolega atau
seseorang yang tidak saya kenal. Bersamaan dengan transmisi ini, martabat
digeser oleh kesetiaan yang tidak memiliki dukungan lain kecuali kasih sayang
personal, dan kejujuran digantikan oleh apa yang disebut autentisitas: keharusan agar orang lain lebih terbuka dan berniat
baik. Jadi kepercayaan pada level personal menjadi suatu proyek yang dikerjakan
oleh pihak-pihak yang terlibat dan menghendaki keterbukaan seorang individu
terhadap orang lain. Proses timbal balik keterbukaan diri.
-
Orientasi
masa depan, merupakan pemikiran kontrafaktual
sebagai bentuk ketrkaitan masa lalu dan masa kini dapat menjadi lingkungan kepercayaan
pada masyarakat modern. Modernitas memiliki empat dimensi institusional, yaitu:Kapitalisme,
Industrialisme, Pengawasan oleh Negara-bangsa, dan Militerisme.
Di dalam
masyarakat modern, peran agama terhadap kegiatan ekonomi relative berkurang.
Ekonomi umumnya menekankan pentingnya rasionalitas dan sekularisme, seringkali
menyebabkan harus berbenturan kepentingan dengan agama yang menekankan
kepercayaan kepada hal-hal yang supranatural. Dengan demikian, keberadaan (existence) agama relatif terpisah dari
ekonomi. Perbedaan yang tajam, tampak pada jika agama dihubungkan dengan
lembaga-lembaga yang melaksanakan aktivitas ekonomi. Dalam tindakan ekonomi
(produksi dan pertukaran komoditi), nilai-nilai yang kurang tinggi dipraktikkan
dan hubungan personal yang kurang dikembangkan. Apalagi nilai-nilai yang
dilibatkan bersifat boros (consumatory
atau instrumental), mereka hanya berhubungan dengan benda-benda yang
dikonsumsi atau dipergunakan.
Dengan
demikian aktivitas ekonomi lebih bersifat sekular atau profane ketimbang sakral.
Pada akhirnya, nilai dan tata cara kehidupan ekonomi tampaknya berdasarkan atas
asumsi-asumsi yang lebih mudah diuji dalam pengalaman empiris, lebih siap
dijalani dan lebih mudah dipastikan sekarang atau nanti. Dalam hal ini, ekonomi
dapat juga diarahkan kearah kebenaran karena jika dihubungkan dengan agama maka
aktivitas ekonomi juga dapat menjadi sesuatu hal yang bersifat saktal.
D. Bentuk Kepercayaan
Kepercayaan
memperbesar kemampuan manusia untuk bekerajsama, bukan didasarkan atas
kalkulasi rasional kegnitif tetapi melalui pertimbangan dari suatu ukuran
penyangga antara keinginan yang sangat dibutuhkan dan harapan yang mungkin
secara parsial akan mengecewakan. Kerjasama tidak mungkin terjalin kalau tidak
didasarkan atas adanya saling percaya di antara sesama pihak yang terlibat.
Kepercayaan
meningkatkan toleransi terhadap ketidakpastian. Ketika pesanan atau barang
misalnya belum datang dari mitra dagang, maka kepercayaan yang dimiliki akan
menetralisir ketidakpastian tersebut, dengan mengingat berbagai peristiwa
sebelumnya, yang mana pesanan selalu tepat waktu datangnya. Penetralan tersebut
merupakan suatu bentuk toleransi yang dilakukan terhadap ketidakpastian.
Sako menemukan tiga bentuk
keprcayaan, diantaranya:
1. Kepercayaan
kompetensi, menunjuk pada keyakinan bahwa mitra dagang akan memperlihatkan
kewajiban mereka berdasarkan kemampuan dan keterampilan yang mereka miliki.
2. Kepercayaan
kontraktual, mencakup suatu keyakinan bahwa orang atau pihak yang terlibat pada
suatu perjanjian tertulis akan menepati janji yang telah diikrarkan bersama tentang
suatu transaksi.
3. Kepercayaan
niat baik, merujuk pada harapan bersama pihak yang terlibat memiliki komitmen
terbuka satu sama lainnya untuk melakukan sesuatu yang terbaik bagi keuntungan
bersama.
E. Hubungan agama dan ekonomi
Agama merupakan sistem sosial yang
sudah terlembaga dalam setiap masyarakat. Secara mendasar agama menjadi norma
yang mengikat dalam keseharian dan menjadi pedoman dari sebagai konsep ideal.
Ajaran-ajaran agama yang telah dipahami dapat menjadi pendorong kehidupan
individu sebagai acuan dalam beriteraksi kepada Tuhan, sesama manusia maupun
alam sekitarnya. Ajaran itu biasa diterapkan dalam mendorong perilaku ekonomi,
sosial dan budaya[1]
Agama dan Etos kerja (Ekonomi)
memang memiliki wilayah yang berbeda. Agama bergerak dalam dimensi spiritual,
sedang bekerja atau usaha adalah berdimensi duniawi untuk mencari nafkah hidup.
Namun, pada wilayah yang lain, agama dan etos kerja memiliki relevansi yang
cukup signifikan sebagai salah satu motivasi spiritual menuju tambahan nilai
kebaikan.
Sejarah membuktikan bahwa pemikiran
agama sangat berpengaruh bagi perkembangan aspek material (kehidupan di dunia),
baik politik, ekonomi, sosial, maupun budaya. Atau dengan kata lain, ada
hubungan yang sangat signifikan antara kemajuan dalam pemikiran (immaterial)
dan kemajuan dalam bidang material.
Kajian sosial tentang agama dan
perkembangan ekonomi menggunakan dua pendekatan:
-
pertama,
kepercayaan sekte atau golongan agama dan pada karakteristik moral, serta
motivasi yang ditimbulkannya.
-
Kedua,
perubahan-perubahan sosial dan ekonomi yang mempengaruhi suatu kelompok dan
gerakan keagamaan yang muncul sebagai reaksi terhadap perubahan.
Walaupun
demikian, kedua pendapat tersebut saling menyempurnakan antara satu sisi dengan
sisi yang lain. Analisis yang menarik tentang hubungan agama dengan
pengembangan ekonomi oleh H. Palanca, dapat dijadikan kajian dalam upaya
mencoba memahami peran yang dijalankan agama di dalam masyarakat. Dengan cara
pandang positivistik, tidak ada cara untuk memaksakan etika agama agar tidak
dipatuhi oleh pemeluknya. Di samping itu di sebagian besar di dunia, dengan
menurunnya peran agama dalam masyarakat dewasa ini, kita tidak mungkin dapat
berharap suatu etika agama memainkan peranan, seperti pada masa pertengahan dan
zaman reformasi. Agama dapat disebut sebagai suatu faktor, bukan penyebab
pertumbuhan ekonomi.
Hubungan
agama dengan pembangunan ekonomi dapat disebut hubungan timbal balik. Agama
merupakan salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan ekonomi, perubahan struktur
ekonomi dan kemajuan masyarakat. Di pihak lain, agama juga tidak statis
melainkan berubah mengikuti pertukaran waktu dan perubahan zaman, serta oleh
perkembangan dan pertumbuhan ekonomi. Kondisi sosial dan ekonomi ikut mempengaruhi
keberadaan agama.
Pengaruh
agama terhadap golongan masyarakat pun jika dilihat dari karakter masing-masing
golongan pekerjaan tidak akan berbeda jauh dengan pengaruh agama terhadap
ekonomi. Golongan masyarakat tersebut adalah sebagai berikut:
1. pertama, golongan petani. Mereka adalah
masyarakat yang terbelakang, di daerah terisolasi, sistem masyarakatnya
sederhana. Di samping itu, terdapat sumber ketidakpastian, ketidakmampuan, mata
pencaharian tergantung pada alam, serangan hama yang di luar kemampuan petani.
Oleh karena itu, mereka mencari kekuatan di luar dirinya yang dianggap dapat
mengatasinya persoalan itu. Misalnya, diadakannya upacara tolak balak dengan
menyediakan sesajen untuk Dewi Sri. Hal ini menunjukkan pengaruh agama begitu
kuat terhadap ekonomi golongan petani sehingga menyebabkan jiwa keagamaan
mereka lebih dekat dengan alam.
2. Kedua, golongan nelayan. Golongan ini
tidak jauh karakternya dengan petani. Mata pencahariannya tergantung pada alam,
musim, adanya badai, dan juga hal-hal yang di luar kemampuan mereka. Oleh
karena itu, merekapun mengadakan upacara untuk penguasa laut, Nyi Roro Kidul.
3. Ketiga, pengrajin dan pedagang kecil. Mata
pencaharian mereka didasarkan atas landasan ekonomi yang memerlukan perhitungan
rasional. Namun, dalam hal kelahiran, perkawinan dan kematian masih diliputi
perasaan keagamaan yang kental, sehingga merekapun tetap mengadakan upacara
keagamaan.
4. Keempat, pedagang besar. Mata pencaharian
mereka lebih berorientasi pada kehidupan duniawi, semakin besar penghasilan dan
kekayaan yang diperoleh, maka semakin kecil kecenderungan mereka terhadap
agama. Namun, mereka tetap melakukan sumbangan dana untuk kepentingan agama
untuk mewakili perasaan keagamaannya.
5. Kelima, karyawan. Golongan ini disebut
juga golongan demokrat atau kalangan industri, karena sistem sosialnya bersifat
modern. Mata pencahariannya berdasarkan penalaran dan efisiensi, sehingga
kecenderungan rasa keagamaan mereka bersifat serba mencari untung dan enak,
karena gaji telah diterima setiap bulan.
Di
Indonesia, kenyataan menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi Islam dimulai
melalui pola kedua sehingga tidak heran jika pengembangan industri keuangan
syariah tumbuh lebih cepat dibandingkan pengkajian teoritis dan konseptual
dalam pembentukan sistem yang lebih komprehensif. Maka, wajar masih adanya
keterbatasan sumber daya insani yang memilih pemahaman secara baik aspek
ekonomi dan syariah. Hal ini menjadi tantangan yang harus dihadapi dalam rangka
pengembangan ekonomi Islam. Keterangan-keterangan ilmiah yang dihasilkan
sosiologi agama tidak akan menyelesaikan segala kesulitan secara tuntas. Segi
kesulitan yang bukan sosiologis harus dimintakan resep dari ilmu yang
bersangkutan. Misalnya teknologi, ekonomi, demografi dlsb. Jika yang dimaksud
moralitas kehidupan itu merupakan wilayah ekonomi, maka moral ekonomi inilah
yang perlu kita pikirkan secara kritis agar bisa menghasilkan moralitas yang
bermakna bagi kehidupan.
Kalau kita
kaitkan dengan konteks Indonesia dewasa ini yang tengah mengacu pembangunan
ekonomi tetapi justru masih banyak pelanggaran moral yang berakibat merugikan
keuangan negara. Anehnya pelanggaran itu terus berkelanjutan dengan pelaku
banyak dari kalangan intelektual dan birokrat yang seharusnya menjadi uswah
bagi masyarakat. Untuk mengetahui lebih jauh bagaimana seharusnya implikasi
etika dalam ekonomi agar menjadi perilaku subjek pendukungnya, antara lain bisa
kita lihat bagaimana pengaruh etika protestan terhadap semangat kapitalisme
sebagaimana dijelaskan Max Weber dalam karyanya the protestan Ethic and The Spirit of Capiralism. Max Weber
berpendapat bahwasanya para pemimpin bisnis dan pemilik modal maupun para
karyawan perusahaan yang mempunyai kemampuan (skill) tinggi ataupun para staf
terdidik baik secara teknis maupun komersial ternyata kebanyakan adalah orang Protestan.
Etos Kerja
Padangan Weber Dengan Konsep Kapitalisme, Semangat
kapitalisme juga meliputi etika kerja yang berarti bahwa semua waktu yang tidak
digunakan untuk mendapatkan uang adalah suatu pemborosan. “Waktu adalah uang”
merupakan prinsip dari kaum kapitalis. Mereka juga berpendapat bahwa tidak bekerja sepanjang
hari adalah suatu pemborosan walaupun selama sehari itu tidak mengeluarkan
uang.[2] Usaha untuk mencari keuntungan demi
keuntungan mengandung implikasi bahwa segala bentuk pemborosan harus dihindari,
biaya ditekan dan tidak ada modal yang disia-siakan. Perhitungan antara
pemasukan dan pengeluaran dibuat secara teliti. Tetapi, semua ini bukan hanya
persoalan cara berbisnis yang sukses melainkan sebuah etika atau etos yang khas
dalam upaya menjawab panggilan Tuhan.
Etos
bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja pada manusia. Keinginan untuk
memperoleh uang bersifat alami, tetapi etos khusus yang menekankan uasaha
sistematis untuk memperoleh uang melalui cara-cara rasional dengan didasari
pembatasan di dalam kosumsi yang diusahakan dan dikembangkan. Hal inilah yang
menyebabkan perkembangan ekonomi yang hebat di dunia Barat. Dalam kenyataanya,
menurut Weber, keinginan untuk mendapatkan uang ,jika tidak disertai dengan
etika. Kekuatan yang menghalangi pertumbuhan ekonomi seperti kapitalisme
rasional adalah sikap tradisionalisme. Sikap ini ditandai kecendrungan mau bekerja kalau hanya untuk
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Menurut Weber, tidak ada manusia yang
secara kodrat ingin menghasilkan lebih dan lebih demi penghasilan itu sendiri.
Kebanyakan manusia bekerja untuk memenuhi kebutuhan yang paling dasar dan kalau
kebutuhan dasar itu sudah terpenuhi mereka beristirahat. Sikap seperti inilah
yang paling dominan ditemukan pada
masyarakat prakapitalis dan pada sebagian dunia.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Kepercayaan
menurut Giddens merupakan keyakinan akan reliabilitas seseorang atau ssitem,
terkait dengan berbagai hasil atau peristiwa, di mana keyakinan itu
mengekspresikan suatu iman (faith) terhadap integritas atau cinta kasih
orang lain, atau terhadap ketepatan prinsip abstrak (pengetahuan teknis).
2. Kepercayaan
dan risiko saling mengisi. Kepercayaan biasanya berfungsi untuk mereduksi atau
meminimalisasi bahaya yang berasal dari aktivitas tertentu.
3. Lingkungan
kepercayaan itu terbagi dua: lingkungan kepercayaan masyarakat pra-modern dan
modern.
4. Sako
menemukan tiga bentuk keprcayaan, yaitu: Kepercayaan kompetensi, kepercayaan kontraktual,
dan kepercayaan niat baik.
5. Agama dan etos kerja (ekonomi)
memiliki relevansi yang cukup signifikan sebagai salah satu motivasi spiritual
menuju tambahan nilai kebaikan.
6.
Saran
Penulis
menyadari bahwa dalam makalah ini masih jauh dari sempurna. Kesalahan ejaan,
metodologi penulisan dan pemilihan kata serta cakupan masalah yang masih
kurang. Karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat
membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Bernard Raho. 2013. Agama dalam
Perspektif Sosiologi, ( Jakarta, Obor).
Damsar. 2013. Pengantar Sosiologi Ekonomi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Giddens, Anthony, Kapitalisme
dan Teori Sosial Modern, Jakarta, Universitas indonesia (UI-Press), 1986.
Nasir, Nanat Fatah, http;// Etos kerja
wirausahawan muslim.